January 8, 2009

LEVELISASI KADER

  1. SIMPATISAN :

ü Mahasiswa muslim FK Unand secara umum

ü Sudah mengikuti BIMBA, LDNI, BBQ, Responsi Agama Islam

ü Memiliki kecenderunga kepada Islam

ü Tidak memusuhi dan menentang terhadap dakwah

ü Belum mengikuti Tarbiyah Islamiyah

ü Tidak aktif dalam kegiatan keislaman

  1. ADK PEMULA :

ü Mengikuti semua proses kaderisasi pada level pemula : BIMBA, LDNI, BBQ, Responsi Agama Islam, MEDIKA I

ü Sudah mempunyai motivasi untuk meningkatkan komitment terhadap Islam dan mulai memahami urgensi Tarbiyah Islamiyah

ü Sudah mengikuti Follow up Responsi

ü Telah cukup aktif dalam acara dan kepanitian yang diadakan

ü Melaksanakan sholat lima waktu dan kewajiban lainya.

  1. ADK MUDA :

ü Mengikuti semua proses kaderisasi pada level muda : BIMBA, LDNI, BBQ, Responsi Agama Islam, MEDIKA I, MEDIKA II, Dauroh ADK I

ü Sudah memahami urgensi Dakwah

ü Sudah mempunyai komiment dengan Tarbiyah Islamiyah

ü Terlibat aktif dalam kepengurusan LDF atau organisasi lain intrakampus dan atau ekstra kampus

ü Telah terlibat aktif dalam acara dan kepanitian yang diadakan

ü Melaksanakan sholat lima waktu dan kewajiban lainya dengan teratur serta mulai menambah dengan amalan sunnah

  1. ADK MADYA :

ü Mengikuti semua proses kaderisasi pada level madya: BIMBA, LDNI, BBQ, Responsi Agama Islam, MEDIKA I, MEDIKA II, Dauroh ADK I, LAMDA II, PPM

ü Sudah memahami urgensi Dakwah, Pemahaman Manhaj Dakwah, dan Harokah Islam

ü Memiliki Kafaah Dakwiyah dan mampu melakukan perekrutan

ü

ü Terlibat aktif dalam kepengurusan inti LDF atau organisasi lain intrakampus dan atau ekstra kampus

ü Memiliki kemampuan tampil dimuka umum

ü Mampu menjadi mentor dan atau Murobbi

ü Memiliki wawasan sospol, keorganisasian dan menejemen

  1. ADK UTAMA / INTI :

ü Mengikuti semua proses kaderisasi pada level utama / inti : BIMBA, LDNI, BBQ, Responsi Agama Islam, MEDIKA I, MEDIKA II, Dauroh ADK I dan II, LAMDA II, PPM, DPD, TOT, Dauroh Murobbi

ü Memiliki komitment yang tinggi memikul amanah dakwah

ü Memiliki wawasan sospol, Kepemimpinan, keorganisasian dan menejemen

ü Telah memiliki binaan

ü Memiliki kemampuan untuk menjadi instruktur, pemateri, penceramah, tutor, dll.

ü Memiliki kemampuan membuat kebijakan strategis

January 8, 2009

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan subtropis karena terjadi peningkatan jumlah penderita, semakin luasnya daerah yang terkena wabah dan semakin beratnya manifestasi klinis yang merupakan keadaan darurat. 1,2,3 Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini masih banyak dijumpai di wilayah Indonesia. Kemajuan teknologi dalam bidang transportasi disertai mobilitas penduduk yang tinggi juga memudahkan penyebaran vektor dari suatu daerah ke daerah lainnya. 1,2,4

Infeksi virus dengue di Indonesia pertama kali dicurigai terjadi di Surabaya pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologi baru diperoleh pada tahun 1970. Setelah itu dilaporkan kasus dari kota di Jawa maupun luar Jawa, dan pada tahun 1994 penyakit ini telah menyebar ke seluruh propinsi di Indonesia.4,5 Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun beberapa tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99% pada tahun 2000 dan 23,87% pada tahun 2003.6 Awal Januari sampai dengan 5 Maret 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (Case Fatality Rate (CFR) =1,53%). 3,6 Pada tahun 2006 terdapat 113.640 kasus dengan 1184 diantaranya berakibat kematian.7

Kasus DBD di Sumatera Barat mulai terjadi pada tahun 1972. Pada tahun 2004 dari bulan Januari sampai bulan April telah dilaporkan kasus DBD sebanyak 318 kasus.3 DBD merupakan salah satu penyakit endemis di Kabupaten Pesisir Selatan, hingga saat ini angka kesakitan DBD cenderung meningkat dan berpotensi untuk terjadinya KLB. Insiden DBD pada tahun 2000-2002 cukup tinggi di Kabupaten Pesisir Selatan yaitu sebanyak 59 kasus pada tahun 2000, tahun 2001 mengalami penurunan sebanyak 40 kasus, sedangkan pada tahun 2002 mengalami kenaikan sebanyak 58 kasus. Beberapa tahun berikutnya mengalami penurunan yang cukup signifikan, tetapi pada tahun 2006 dan 2007 mengalami peningkatan yang cukup tinggi.8 Angka kejadian DBD di Kecamatan Bayang dari bulan Januari sampai bulan Juli 2008 tercatat sebanyak 22 kasus.9

Penyakit DBD dipengaruhi kondisi lingkungan, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, adanya kontainer buatan atau alamiah di tempat pembuangan akhir sampah (TPS) atau tempat-tempat lainnya yang dapat menampung air, penyuluhan dan perilaku masyarakat. 10,11 Teori Bloom mengatakan bahwa salah satu hal yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia adalah perilaku manusia.12 Sasaran yang hendak dicapai pada tahun 2010 yaitu angka kesakitan demam berdarah adalah 2 per 100.000 penduduk 8

Departemen Kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi kasus DBD. Cara pencegahan atau pemberantasan DBD yang dapat dilakukan saat ini ialah dengan memberantas vektor nyamuk penular karena vaksin atau obat untuk membasmi virusnya belum ada. Cara yang dianggap paling tepat untuk memberantas vektor adalah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD). Nyamuk telah tersebar luas di seluruh Indonesia, baik di rumah maupun di tempat umum, oleh karena itu upaya pemberantasannya tidak hanya merupakan tugas pemerintah (tenaga kesehatan) saja tetapi harus didukung oleh peran serta masyarakat. 10,11,13

Puskesmas Pasar Baru merupakan salah satu dari 18 buah Puskesmas yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, terletak di wilayah Kecamatan Bayang yang berjarak sekitar 11 km dari ibukota kabupaten Pesisir Selatan dan sekitar 62 km dari ibukota propinsi. Wilayah kerja Puskesmas Pasar Baru terdiri dari 2 kenagarian dan 19 kampung dengan luas kurang lebih 23,5 Hektar.9

Kasus DBD ditemukan pada 7 kampung yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Pasar Baru. Kasus baru DBD sepanjang Januari sampai Agustus 2008 ditemukan sebanyak 26 kasus dengan rincian 12 kasus ditemukan di kampung Pasar Baru, 3 kasus di desa Pinang Balirik, 3 kasus di kampung Karang Pauh, 2 kasus di desa Selayang Pandang, 2 kasus di kampung Teluk Bakung, 2 kasus di Gurun Panjang, dan 1 kasus masing-masing di Asam Kamba dan Api – Api. Angka ini merupakan kejadian DBD kedua terbanyak di Kabupaten Pesisir Selatan setelah Salido-Painan, dimana inciden rate DBD di Salido-Painan dari bulan Januari sampai Agustus 2008 adalah 130/100.000 penduduk, sedangkan insiden rate untuk Pasar Baru adalah 49/100.000 penduduk. Dari data tersebut juga terlihat bahwa angka kejadian DBD di Kecamatan Bayang paling tinggi di Kampung Pasar Baru.9 Berdasarkan hal tersebut di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat terhadap kejadian DBD di kampung Pasar Baru Kenagarian Pasar Baru Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana perilaku masyarakat kampung Pasar Baru terhadap kejadian DBD?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui gambaran perilaku masyarakat kampung Pasar Baru terhadap kejadian DBD.

1.3.2. Tujuan Khusus

1.3.2.1. Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang DBD di kampung Pasar Baru.

1.3.2.2. Mengetahui sikap masyarakat terhadap DBD di kampung Pasar Baru.

1.3.2.3. Mengetahui tindakan masyarakat terhadap DBD di kampung Pasar Baru.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Mengetahui tingkat perilaku masyarakat terhadap DBD

1.4.2. Bahan masukan bagi Dinas Kesehatan, Puskesmas dan petugas kesehatan dalam upaya selanjutnya terhadap pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue.

1.4.3. Menambah pengalaman belajar bagi peneliti.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Demam Berdarah Dengue (DBD)

2.1.1. Definisi

Demam Berdarah Dengue (DBD) ialah suatu penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue tipe 1 sampai 4. DBD disertai dengan empat gejala klinis utama yaitu demam tinggi yang timbul mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari, manifestasi perdarahan, hepatomegali dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan sebagai akibat kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian. 1,14,15,16,17

2.1.2. Etiologi

Demam Berdarah Dengue merupakan suatu penyakit infeksi arbovirus (arthropod-borne virus) akut yang disebabkan oleh virus dengue yang termasuk kelompok Arbovirus B dan ditularkan oleh nyamuk spesies Aedes. Nyamuk Aedes di Indonesia dikenal dua jenis yaitu : Aedes aegypti dan Aedes albopictus. 3,5,6,17 Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.18

1. Virus dengue

Virus dengue termasuk dalam genus Flavivirus (famili Flaviviridae) dimana sekitar 70 jenis virus termasuk di dalamnya. Virus dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Struktur antigen keempat serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan imunitas silang. 1,15,16,17 Demam berdarah dengue di Indonesia, terutama disebabkan oleh DEN-3, walaupun akhir-akhir ini ada kecenderungan dominasi oleh virus DEN-2. 5,6

2. Vektor

Virus dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk, terutama Aedes aegypti. Aedes aegypti adalah spesies nyamuk yang menggigit pada siang hari, dengan peningkatan aktivitas menggigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari tenggelam. 18 Aedes (Ae.) dari subgenus Stegomyia. Ae. aegypti merupakan vektor epidemi yang paling utama, namun spesies lain seperti Ae. albopictus, Ae. polynesiensis, anggota dari Ae. Scutellaris complex, dan Ae. (Finlaya) niveus juga dianggap sebagai vektor sekunder. Semua spesies mempunyai daerah distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas kecuali Ae. aegyti . Nyamuk aedes selain Ae. aegyti merupakan host yang sangat baik untuk virus dengue, biasanya mereka merupakan vektor epidemi yang kurang efisien dibanding Ae.aegypti. 5,18

3. Hubungan antara nyamuk Aedes aegypti dengan virus dengue

Nyamuk Aedes aegypti dapat mengandung virus dengue bila menghisap darah seorang penderita DBD. Virus ini kemudian masuk ke dalam intestinum nyamuk dan masuk kedalam hemocoelum,bereplikasi dan akhirnya masuk ke kelenjar air liur, dari sini sudah siap untuk ditularkan lagi. Fase ini disebut masa inkubasi, yang memerlukan waktu 7-14 hari. Virus dengue dapat dibiakkan pada sel mamalia, dapat juga dibiakkan pada sel Arthropoda dan sel nyamuk Aedes aegypti. 5,18

2.1.3. Epidemiologi

Infeksi virus dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan subtropis, oleh karena peningkatan jumlah penderita, menyebar luasnya daerah yang terkena wabah dan manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat yaitu Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS). 1,2,3 Tahun 1975 sampai 1995, Demam Dengue (DD) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) terdeteksi keberadaannya di 102 negara dari lima wilayah WHO yaitu : 20 negara di Afrika, 42 negara di Amerika, 7 negara di Asia Tenggara, 4 negara di Mediterania Timur dan 29 negara di Pasifik Barat. Seluruh wilayah tropis di dunia saat ini telah menjadi hiperendemis dengan keempat serotipe virus. Indonesia, Myanmar, Thailand termasuk daerah kategori A yaitu : kejadian luar biasa (wabah siklis) terulang pada jangka waktu antara 3 sampai 5 tahun. Wabah menyebar sampai daerah pedesaan. 6

Pengaruh musim terhadap DBD di Indonesia tidak begitu jelas, tetapi secara garis besar dapat dikemukakan bahwa jumlah penderita DBD meningkat antara bulan September sampai Februari dan mencapai puncak pada bulan Januari.5,16

2.1.4. Patogenesis dan Patofisiologi

2.1.4.1. Patogenesis

Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Organ sasaran dari virus itu adalah organ hepar, nodus limfatikus, sumsum tulang serta paru-paru. Data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa sel-sel monosit dan makrofag mempunyai peranan besar pada infeksi ini. Dalam peredaran darah, virus tersebut akan difagosit oleh sel-sel monosit perifer. 5,19

Virus dengue mampu bertahan hidup dan mengadakan multiplikasi di dalam sel tersebut. Infeksi virus dengue dimulai dengan menempelnya virus genomnya masuk ke dalam sel dengan bantuan organel-organel sel, genom virus membentuk komponen-komponennya. Virus dilepaskan dari dalam sel setelah komponen struktural dirakit. Proses perkembangan virus dengue terjadi di sitoplasma sel. 5,19

Virus hanya dapat hidup dalam sel hidup sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada pada daya tahan tubuh manusia. Sebagian besar ahli masih menganut The Secondary Heterologous Infection Hypothesis atau The Sequential Infection Hypothesis yaitu bahwa demam berdarah dengue dapat terjadi apabila seseorang setelah terinfeksi dengan virus dengue pertama kali mendapat infeksi ulangan dengan tipe virus dengue yang berlainan. 1,6,15,19

Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan The Secondary Heterologous Infection Hypothesis yaitu akibat infeksi kedua oleh tipe virus yang berlainan pada seorang penderita dengan kadar antibodi anti dengue yang rendah, akan terbentuk kompleks virus antibodi yang selanjutnya : 15,19,20

  • Mengaktivasi sistem komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilatoksin C3a dan C5a. C5a menyebabkan meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangnya plasma melalui endotel dinding tersebut.
  • Menimbulkan agregasi trombosit sehingga mengakibatkan trombosit kehilangan fungsi dan mengalami metamorfosis dan dimusnahkan oleh sistem RE dengan akibat terjadinya trombositopenia hebat dan perdarahan.
  • Terjadi aktivasi faktor Hageman (faktor XII) yang selanjutnya juga mengaktivasi sistem koagulasi dengan akibat terjadinya pembekuan intravaskular yang meluas. Disamping itu aktivasi faktor XII akan menggiatkan sistem kinin yang berperan dalam meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya faktor koagulasi dan kerusakan hati akan menambah beratnya perdarahan.

2.1.4.2. Patofisiologi

Sistem vaskuler

Patofisiologi primer DBD dan DSS adalah peningkatan akut permeabilitas vaskuler yang mengarah ke kebocoran plasma ke dalam ruang ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah. Volume plasma menurun lebih dari 20% pada kasus-kasus berat. Hal ini didukung penemuan post mortem meliputi efusi pleura, hemokonsentrasi dan hipoproteinemi.17,19 Tidak terjadinya lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan bahwa perubahan sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator kerja singkat. Jika penderita sudah stabil dan mulai sembuh, cairan ekstravasasi diabsorbsi dengan cepat, menimbulkan penurunan hematokrit. 19

Perubahan hemostasis pada DBD dan DSS melibatkan 3 faktor: perubahan vaskuler, trombositopeni dan kelainan koagulasi. Hampir semua penderita DBD mengalami peningkatan fragilitas vaskuler dan trombositopeni, dan banyak diantaranya penderita menunjukkan koagulogram yang abnormal. 19,20

Sistem respon imun

Setelah virus dengue masuk dalam tubuh manusia, virus berkembang biak dalam sel retikuloendotelial yang selanjutnya diikuti dengan viremia yang berlangsung 5-7 hari. Akibat infeksi virus ini muncul respon imun baik humoral maupun selular, antara lain antinetralisasi, antihemaglutinin, antikomplemen. Antibodi yang muncul pada umumnya adalah IgG dan IgM, pada infeksi dengue primer antibodi mulai terbentuk, dan pada infeksi sekunder kadar antibodi yang telah ada meningkat (booster effect).

Antibodi terhadap virus dengue dapat ditemukan di dalam darah sekitar demam hari ke-5, meningkat pada minggu pertama sampai dengan ketiga, dan menghilang setelah 60-90 hari. Kinetik kadar antibody IgG berbeda dengan kinetik kadar antibodi IgM, oleh karena itu kinetik antibodi IgG harus dibedakan antara infeksi primer dan sekunder. Pada infeksi primer antibodi IgG meningkat sekitar demam hari ke-14, sedangkan pada infeksi sekunder antibodi IgG meningkat pada hari ke-2. Oleh karena itu diagnosis dini infeksi primer hanya dapat ditegakkan dengan mendeteksi antibodi IgM setelah hari sakit kelima, diagnosis infeksi sekunder dapat ditegakkan lebih dini dengan adanya peningkatan antibodi IgG dan IgM yang cepat. 19

2.1.5. Manifestasi klinis

Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik, atau dapat berupa demam yang tidak khas, Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue atau Sindrom Syok Dengue (SSD). Pasien pada umumnya mengalami fase demam selama 2 – 7 hari, yang diikuti oleh fase kritis selama 2 – 3 hari. Pasien tidak demam pada fase ini, akan tetapi mempunyai risiko untuk terjadi renjatan jika tidak mendapat pengobatan yang adekuat. 14,15,16,20

2.1.5.1. Demam Dengue (DD)

Demam Dengue merupakan penyakit demam akut dengan ciri khas muncul tiba-tiba, biasanya berlangsung selama 2-7 hari ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut : nyeri kepala, nyeri retroorbital, mialgia atau artralgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan (ptekie atau uji bendung positif), leukopenia dan pemeriksaan serologi dengue positif atau ditemukan pasien DD atau DBD yang sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.14,15,17,20

2.1.5.2. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam berdarah dengue ditandai oleh empat manifestasi klinis, yaitu: 1,5,6,14,16

1. Demam

Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus-menerus, berlangsung 2-7 hari, kemudian turun secara cepat. Akhir fase demam merupakan fase kritis pada Demam Berdarah Dengue, karena fase tersebut dapat merupakan awal penyembuhan tetapi dapat pula sebagai awal syok.

2. Manifestasi perdarahan

Penyebab perdarahan adalah vaskulopati, trombositopenia dan gangguan fungsi trombosit. Jenis perdarahan yang terbanyak adalah ptekie, purpura, ekimosis, dan perdarahan konjungtiva. Perdarahan lain yaitu epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan melena. Perdarahan yang paling ringan ditandai dengan uji torniquet positif.

3. Hepatomegali

Pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit.

4. Tanda-tanda kegagalan sirkulasi

Gangguan sirkulasi ditandai dengan demam disertai keluarnya keringat, perubahan denyut nadi dan tekanan darah, akral ekstremitas teraba dingin disertai kongesti kulit.

2.1.5.3. Sindrom Syok Dengue (SSD)

Seluruh kriteria DBD di atas ditambah dengan kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan manifestasi nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi (≤ 20 mmHg), hipotensi, kulit dingin dan lembab serta gelisah. Waktu pengisisan kapiler menurun, yaitu lebih dari 2 detik. 1,5,15,20

2.1.6. Tatalaksana

Terapi suportif merupakan bagian terpenting dari pengobatan Demam Berdarah Dengue yang bertujuan untuk mengatasi perdarahan, mencegah/ mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak minum. Penderita disarankan untuk menjaga intake makanan, terutama dalam bentuk cairan. Cairan intravena (infus) mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah platelet menurun drastis. Demam diturunkan dengan kompres hangat atau pemberian antipiretik. 5,20

2.1.6.1. Pertolongan Pertama pada Penderita Demam Berdarah Dengue

Seseorang yang menderita penyakit Demam Berdarah Dengue pada awalnya akan menderita demam tinggi. Tubuh banyak kekurangan cairan oleh karena terjadi penguapan yang lebih banyak daripada biasa. Cairan tubuh makin berkurang bila anak terus menerus muntah atau tidak mau minum. Pertolongan pertama yang terpenting adalah memberikan minum yang banyak. 18,20,21

Berikanlah minum kira-kira 2 liter (8 gelas) dalam satu hari atau 3 sendok makan setiap 15 menit. Minuman yang diberikan sesuai selera anak misalnya air putih, air teh manis, sirup, sari buah, susu, oralit, softdrink, dapat juga diberikan nutricious diet yang banyak beredar saat ini. cairan dalam tubuh diharapkan tetap stabil dengan memberikan minum banyak. Jumlah kencing anak harus di perhatikan untuk memantau kekurangan cairan. Jumlah cairan yang diminum anak dikatakan cukup, apabila anak banyak buang air kecil minimal 6 kali dalam satu hari. 5,21

Demam yang tinggi demikian juga akan mengurangi cairan tubuh dan dapat menyebabkan kejang pada anak yang mempunyai riwayat kejang bila demam tinggi, oleh karena itu harus segera diberikan obat penurun panas. Obat penurun panas ini harus dipilih obat yang berasal dari golongan parasetamol atau asetaminophen, jangan diberikan jenis asetosal atau aspirin oleh karena dapat merangsang lambung sehingga akan memperberat bila terdapat perdarahan lambung. Anak yang menderita demam terlalu tinggi sebaiknya diberikan kompres hangat dan bukan kompres dingin, oleh karena kompres dingin dapat menyebabkan anak menggigil. Anak yang mempunyai riwayat kejang demam disamping obat penurun panas dapat diberikan obat anti kejang. 21

2.1.6.2. Perawatan di Rumah Sakit

Seorang yang diduga menderita Demam Berdarah Dengue akan mengalami bahaya bila mendapat syok dan perdarahan hebat. Untuk mencegah hal-hal tersebut, maka penderita dianjurkan dirawat di rumah sakit. 21

Seseorang harus dirawat apabila menderita gejala-gejala di bawah ini: 21

  1. Demam terlalu tinggi (lebih dari 390C atau lebih)
  2. Muntah terus menerus
  3. Tidak dapat atau tidak mau minum sesuai anjuran
  4. Kejang
  5. Perdarahan hebat, muntah atau berak darah
  6. Nyeri perut hebat
  7. Timbul gejala syok, gelisah atau tidak sadarkan diri, nafas cepat, seluruh badan teraba dan lembab, bibir dan kuku kebiruan, anak merasa haus, kencing berkurang atau tidak ada sama sekali
  8. Hasil laboratorium menunjukkan peningkatan kekentalan darah dan atau penurunan jumlah trombosit.

2.1.7. Pencegahan Penularan

Pengelolaan lingkungan untuk mengendalikan Aedes aegypti serta mengurangi kontak antara vektor dengan manusia adalah melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan tempat perindukan nyamuk, pengelolaan sampah padat, serta memperbaiki desain rumah.418,21

Ada beberapa program dalam memberantas dan mencegah penyakit DBD dengan memberantas nyamuk penularnya, yaitu : 1,4,18

1. Penyelidikan epidemiologi (PE)

Penyelidikan epidemiologi merupakan kegiatan pencarian penderita penular DBD dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di rumah penderita dan rumah-rumah sekitarnya dalam radius 100 meter (20 rumah) serta tempat-tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penularan.

2. Penanggulangan fokus

Penanggulangan fokus adalah kegiatan penyemprotan dengan insektisida dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M+ di lokasi kasus DBD dalam radius 200 meter dari tempat tinggal penderita yang telah dilakukan PE. Pengasapan atau fogging dilakukan sekitar jam 08.00-11.00 dan 15.00-17.00, tindakan ini dilakukan 10 hari, bila:

a. Ditemukan penderita DBD lainnya atau ditemukan 3 atau lebih penderita dengan panas tanpa sebab yang jelas dan ditemukan jentik, dilakukan penyemprotan insektisida di rumah penderita dan sekitarnya dalam radius 200 meter, dilakukan 2 siklus dengan interval 7 hari, penyuluhan serta penggerakan masyarakat untuk PSN.

b. Tidak ditemukan penderita seperti tersebut di atas, tetapi ditemukan jentik, maka dilakukan PSN dan penyuluhan.

c. Tidak ditemukan penderita dan tidak ditemukan jentik, dilakukan penyuluhan pada masyarakat

3. Fogging massal sebelum penularan

Fogging massal sebelum musim penularan (biasanya sebelum musim hujan) adalah kegiatan penyemprotan insektisida yang dilakukan di seluruh rumah di seluruh kelurahan endemis sebanyak 2 siklus dengan interval 7 hari. Kegiatan yang dilakukan selain penyemprotan yaitu diawali dengan penyuluhan dan gerakan PSN masyarakat.

4. Abatisasi selektif

Abatisasi dengan menaburkan bubuk abate/altosit ke tempat penampungan air. Bubuk abate Sand Grand (SG) 10 gram untuk 100 liter air dapat membunuh kepompong nyamuk. Penggunaan zat ini dapat diulangi setiap 3 bulan.

5. Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB)

Pemeriksaan Jentik Berkala adalah kegiatan pemeriksaan terhadap tempat penampungan air pada 100 rumah sampel di setiap kelurahan endemis yang dilaksanakan setiap 3 bulan sekali.

Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan memelihara ikan pemakan jentik, menaburkan larvasida, menggunakan kelambu waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, memasang obat nyamuk dan lain-lain sesuai kondisi tempat.

2.2. Perilaku

Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas pada manusia itu sendiri. Perilaku dalam kerangka analisis adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau tidak langsung. 12

Perilaku dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua yakni faktor interna dan eksterna. Faktor interna mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi, dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Faktor eksterna meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti: iklim, manusia, sosial ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya. 12

Perilaku manusia sangat komplek dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Benyamin Bloom (1980) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku itu ke dalam tiga domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang tegas dan jelas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut yang terdiri dari: a). kawasan kognitif, b). kawasan afektif, c). kawasan psikomotor. 12

Ketiga domain ini, oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, diukur dari: 12

a. Pengetahuan peserta didik terhadap materi yang diberikan

b. Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan

c. Praktek dan tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan.

2.2.1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, pendapat tersebut muncul dari pengalaman dan penelitian. 12,22

Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yaitu: 12

a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek)

b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut, dimana disini sikap subjek sudah mulai timbul.

c. Evaluation (menimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus

e. Adoption. dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut di atas.12 Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat:

a. Tahu (know)

b. Memahami (comprehension)

c. Indikasi (application)

d. Analisis (analysis)

e. Sintesis (synthesis)

f. Evaluasi (evaluation)

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas. 12

2.2.2. Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi terhadap stimulus sosial. New Coomb, seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan tetapi merupakan predisposisi tindakan. Sikap masih merupakan reaksi tertutup, lebih dapat dijelaskan lagi bahwa sikap merupakan reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. 12,13

Allport (1954) menjelaskan sikap mempunyai tiga komponen pokok, yaitu: 12

a. Kepercayaan, ide, dan konsep terhadap suatu objek

b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek

c. Kecenderungan untuk bertindak

Sikap terdiri dari berbagai tingkatan:

a. Menerima (receiving)

b. Respon (responding)

c. Menghargai (valuing)

d. Bertanggungjawab (responsible)

2.2.3. Tindakan

Sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Agar sikap terwujud menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Faktor dukungan dari pihak lain juga diperlukan disamping faktor fasilitas. 12,22

Tingkat-tingkat praktek:12

a. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

b. Respon terpimpin

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar, sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat 2.

c. Mekanisme

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktek tingkat 3.

d. Adaptasi

Adaptasi adalah suatu praktek yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut.

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL

Perilaku

Pengetahuan

Sikap

Tindakan

Kejadian Demam Berdarah Dengue

BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.

4.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 13 Agustus sampai 3 September 2008

4.3. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kampung Pasar Baru Kenagarian Pasar Baru Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan.

4.4. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian adalah setiap keluarga di kampung Pasar Baru Kenagarian Pasar Baru Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan. Sampel penelitian diambil secara random sampling. Jumlah sampel minimal dihitung menggunakan rumus :

n =

keterangan : n = jumlah sampel minimal

N = jumlah populasi

d = 0,1 ( kesalahan yang masih dapat ditolerir)

Z = 1,96 ( α =0,05)

p = 0,5

Jumlah penduduk di kampung Pasar Baru sebanyak 743 kepala keluarga (KK), maka jumlah sampel yang diambil menurut rumus statistik adalah 85 KK.

Kriteria inklusi:

Semua keluarga di Kampung Pasar Baru Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan.

Kriteria eksklusi:

1. Responden yang tidak bersedia diwawancarai.

2. Responden tidak berada di tempat saat dialakukan wawancara.

4.5. Variabel Penelitian

Klasifikasi variabel dalam penelitian ini adalah ;

a. Variabel bebas : perilaku masyarakat

b. Variabel terikat : kejadian DBD

4.6. Alat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuosioner. Wawancara dilakukan secara terpimpin.

4.7. Pengumpulan Data

Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti. Data ini dikumpulkan melalui survei lapangan langsung ke responden dengan menggunakan kuosioner yang telah disiapkan.

Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan mempelajari kepustakaan, data Puskesmas Pasar Baru Kabupaten Pesisir Selatan.

4.8. Pengolahan Data

Data diolah secara manual dengan menggunakan tabulasi.

4.9. Definisi Operasional

  1. Pengetahuan adalah kemampuan responden dalam menjawab pertanyaan tentang vektor, tempat perindukan, tempat bersembunyi, dan program 3M. Cara pengukuran adalah dengan wawancara. Pengetahuan dinilai dari 12 pertanyaan (no. 1-12). Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner, dengan ketentuan bahwa setiap jawaban yang betul diberi nilai 1 dan jawaban yang salah diberi nilai 0. Skor tertinggi adalah 12.

Hasil pengukuran adalah baik bila skor total ≥ 6. Pengetahuan kurang jika skor total < 6.

Skala yang dipakai adalah skala ordinal.

  1. Sikap adalah respon tertutup dari responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku masyarakat terhadap DBD.

Cara pengukurannya adalah dengan wawancara yang dinilai dari 8 pertanyaan (no. 13-20).

Alat ukur yang digunakan adalah kuosioner, dengan ketentuan bahwa setiap jawaban yang betul diberi nilai 1 dan jawaban yang salah diberi nilai 0. Skor tertinggi adalah 8.

Sikap baik bila skor total ≥ 4. Buruk jika skor total <4.

Skala yang dipakai adalah skala ordinal.

  1. Tindakan adalah perwujudan sikap yang nyata. Tindakan pencegahan penularan penyakit Demam Berdarah Dengue adalah sikap yang nyata dalam mencegah terjadinya Demam Berdarah Dengue. Pertanyaan mengenai tindakan pencegahan penularan Demam Berdarah Dengue berjumlah 10 butir (pertanyaan no. 21-30), setiap jawaban yang benar diberi nilai 1 dan yang salah diberi nilai 0. Skor tertinggi yaitu 9 karena terdapat 1 pertanyaan mengenai fakta yang tidak diberi nilai. Tindakan baik ≥ 5, tidak baik jika skor < 5.
  2. Kejadian DBD adalah kejadian penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti serta memenuhi kriteria WHO 1997 mengenai diagnosis Demam Berdarah Dengue (DBD) pada daerah Pasar Baru dari bulan Januari – Agustus 2008.
  3. Responden adalah salah satu penghuni rumah yang bertanggung jawab di rumah dan mewakili dalam mengambil keputusan sehubungan dengan masalah DBD.

BAB 5

HASIL PENELITIAN

5.1. Karakteristik Responden

Pengambilan data di lapangan dilakukan pada tanggal 20-25 Agustus 2008. Penelitian dilakukan dengan wawancara secara terpimpin dan pengisian kuesioner kepada 85 orang responden di Kampung Pasar Baru, Kanagarian Pasar Baru, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan.

Karakteristik responden terlihat dari tabel berikut:

Table 5.1.1. Distribusi Responden Berdasar Umur

No

Umur

Frekuensi

Persentase

1

20-29

18

21,18

2

30-39

16

18,82

3

40-49

20

23,52

4

50-59

21

24,70

5

60-69

8

9,41

6

70-79

2

2,35

Jumlah

85

100

Dari tabel terlihat rentang umur responden yang terbanyak adalah 50-59 tahun (24,70%), yang paling sedikit responden dengan rentang umur 70-79 tahun (2,35%), dan tidak ada responden yang berumur dibawah 20 tahun.

Tabel 5.1.2. Distribusi Responden Berdasar Jenis Kelamin

No

Jenis Kelamin

Frekuensi

persentase

1

Laki-laki

46

54,12

2

Perempuan

39

45,88

Jumlah

85

100

Dari 85 responden terbanyak adalah laki-laki denagn 54,12%, sedangkan responden perempuan hanya 45,88%.

Tabel 5.1.3. Distribusi Responden Berdasar Pendidikan

No

Pendidikan

Frekuensi

frekuensi

1

SD

20

23,53

2

SMP

13

15,29

3

SMA

37

43,53

4

Diploma 3

3

3,52

5

Strata 1

12

14,12

Jumlah

85

100

Tingkat pendidikan responden yang terbanyak adalah SMA yaitu 43,53%, responden yang berpendidikan tinggi (S1 dan D3) adalah 17,74%. Pendidikan responden terendah adalah SD dan yang tertinggi adalah S1.

5.2. Hasil Penelitian

5.2.1. Gambaran Pengetahuan Masyarakat Terhadap Kejadian DBD di

Kampung Pasar Baru

Pengetahuan responden dalam kaitannya dengan penyakit DBD yaitu mengenai penyebab penyakit, cara penularan, tanda-tanda penyakit dan pencegahan jika terkena penyakit DBD yang dinilai benar menurut kriteria jawaban, tertera pada tabel 5.2.1.1

Tabel 5.2.1.1 Pengetahuan responden yang benar terhadap Demam Berdarah Dengue

No.

Kriteria

Persentase

1

Etiologi

9,41

2

Transmisi

52,06

3

Tanda

40,0

4

Pencegahan

71,47

Pengetahuan responden pada setiap komponen pertanyaan dengan jawaban benar tertinggi untuk kelompok pertanyaan pencegahan 71,47% meliputi pengetahuan tentang cara menghindari gigitan nyamuk, frekuensi pengurasan tempat penampungan air, manfaat pemakaian bubuk abate dan pengasapan (foging). Sebanyak 52,06% responden menjawab dengan benar pertanyaan tentang trasmisi penyakit DBD meliputi vektor yang menularkan, tempat perindukan vektor, waktu terbanyak vektor menggigit dan jarak terbang dari vektor. Responden yang mengetahui tanda-tanda DBD serta tanda bahaya DBD sebanyak 40%. Hanya 2% dari responden yang mengetahui penyabab DBD adalah virus dengue.

Secara umum tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kejadian DBD di kampung Pasar Baru dapat dilihat pada table berikut :

Tabel. 5.2.1.2. Gambaran Pengetahuan Masyarakat Terhadap Kejadian DBD di

Kampung Pasar Baru

No

Pengetahuan

Jumlah Responden

Persentase

1.

Baik

65

76,47

2.

Kurang

20

23,53

Jumlah

85

100

Responden yang memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang DBD di Kampung Pasar Baru adalah 76,47% dan yang memiliki pengetahuan kurang tentang DBD adalah 23,53%.

5.2.2. Gambaran Sikap Masyarakat Terhadap Kejadian DBD di Kampung Pasar Baru.

Sikap masyarakat terhadap kejadian DBD dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.2.2.1. Sikap responden yang baik terhadap upaya penanggulangan penyakit DBD.

No

Kriteria

Persentase

1

Pertolongan penderita

92,55

2.

Pencegahan

92,94

Responden yang memiliki sikap yang baik tentang pertolongan penderita meliputi tindakan ketika demam tinggi serta sarana yang digunakan dalam pengobatan sebanyak 92,55%. Responden yang memiliki sikap yang baik tentang pencegahan adalah sebanyak 92,94%. Sikap pencegahan ini meliputi cara menggantung pakaian setelah dipakai, menutup wadah tempat penampungan air, mengubur dan menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air, pemberian bubuk abate pada tempat penampungan air yang sukar dikuras serta upaya pengasapan di lingkungan tempat tinggal.

Secara umum sikap masyarakat terhadap kejadian DBD di kampung Pasar Baru dapat dilihat pada table berikut :

Tabel. 5.2.2.2. Gambaran Sikap Masyarakat Terhadap Kejadian DBD di Kampung Pasar Baru

No

Sikap

Jumlah responden

Persentase

1.

Baik

85

100

2.

Buruk

0

0

Jumlah

85

100

Pada tabel tersebut terlihat bahwa semua responden memiliki sikap yang baik terhadap kejadian DBD.

5.2.3. Gambaran Tindakan Masyarakat Terhadap Kejadian DBD di Kampung

Pasar Baru.

Tabel 5.2.3.1. Tindakan responden yang baik dalam kaitannya dengan

Penanggulangan penyakit DBD.

No

Kriteria

Persentase

1

Pertolongan penderita

89,41

2

Pencegahan

58,33

Sebagian besar responden sudah dapat memberikan pertolongan terhadap penderita demam, yaitu sebanyak 89,41 %. Sebanyak 58,33 % responden sudah melakukan tindakan pencegahan meliputi pengurasan bak mandi lebih atau sama satu kali seminggu, pemakaian anti nyamuk atau kelambu, cara penggantungan pakaian bekas pakai, penutupan dan pengurasan wadah penampungan air, mengubur barang bekas yang dapat menampung air serta pemberian bubuk abate.

Secara umum tindakan masyarakat terhadap kejadian DBD di Kampung Pasar Baru dapat dilihat pada table berikut :

Tabel. 5.2.3.2. Gambaran Tindakan Masyarakat Terhadap Kejadian DBD di

Kampung Pasar Baru

No

Tindakan

Jumlah Responden

Persentase

1.

Baik

70

82,35

2.

Tidak Baik

15

17,65

Jumlah

85

100

Responden yang sudah melakukan tindakan yang baik untuk mencegah dan menanggulangi kejadian DBD di Kampung Pasar Baru adalah 82,35 % dan yang tidak baik sebanyak 17,65 %.

BAB 6

PEMBAHASAN

6.1. Karakteristik Responden

Dari 85 responden yang diwawancarai terbanyak adalah responden dewasa dan dewasa muda, tidak ada responden yang berumur dibawah 20 tahun, dan hanya 2 orang responden yang berumur lebih dari 70 tahun. Pendidikan responden terbanyak adalah SMA dan cukup banyak responden yang berpendidikan sarjana. Dengan demikian hasil penelitian yang didapat diharapkan mampu menggambarkan secara objektif perilaku masyarakat terhadap kejadian DBD di Kampung Pasar Baru, Kenagarian Pasar Baru, kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan.

6.2. Gambaran Pengetahuan Masyarakat Kampung Pasar Baru Terhadap

Kejadian DBD.

Pengetahuan responden pada setiap komponen pertanyaan dengan jawaban benar tertinggi untuk kelompok pertanyaan pencegahan meliputi pengetahuan tentang cara menghindari gigitan nyamuk, frekuensi pengurasan tempat penampungann air, manfaat pemakaian bubuk abate dan pengasapan (foging). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa warga Kampung Pasar Baru secara umum telah memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan DBD. Hal ini berlawanan dengan angka kejadian DBD yang tinggi di Kampung Pasar Baru. Kejadian DBD yang masih tinggi tersebut mungkin disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat Kampung Pasar Baru tentang transmisi, tanda-tanda DBD dan penyebab DBD dimana hanya sebanyak 52,06% responden menjawab dengan benar pertanyaan tentang trasmisi penyakit DBD meliputi vektor yang menularkan, tempat perindukan vektor, waktu terbanyak vektor menggigit dan jarak terbang dari vektor. Responden yang mengetahui tanda-tanda DBD serta tanda bahaya DBD sebanyak 40%. Hanya 2% dari responden yang mengetahui penyabab DBD adalah virus dengue. Pengetahuan tentang transmisi ini juga penting untuk menurunkan angka kejadian DBD karena jika warga tidak mengetahui tentang vektor, tempat perindukan vektor, waktu menggigit dan jarak terbang maka tentu warga tidak akan menghindari faktor-faktor tersebut sehingga anggka kejadian DBD tetap tinggi di Kampung Pasar Baru.

6.3. Gambaran Sikap Masyarakat Kampung Pasar Baru terhadap Kejadian

DBD

Dari hasil penelitian diketahui responden yang memiliki sikap yang baik tentang pertolongan penderita meliputi tindakan ketika demam tinggi serta sarana yang digunakan dalam pengobatan sebanyak 92,55 %. Responden yang memiliki sikap yang baik tentang pencegahan adalah sebanyak 92,94 %. Sikap pencegahan ini meliputi cara menggantung pakaian setelah dipakai, menutup wadah tempat penampungan air, mengubur dan menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air, pemberian bubuk abate pada tempat penampungan air yang sukar dikuras serta upaya pengasapan di lingkungan tempat tinggal. Dengan demikian msyarakat Kampung Pasar baru sudah memiliki sikap yang baik terhadap kejadian DBD. Tingginya angka kejaadian DBD di kampung pasar baru disebabkan karena sikap yang baik tersebut belum diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata, misalnya 80 % masyarakat tidak setuju untuk menggantung pakaian bekas pakai di belakang pintu tapi hanya 48,23 % yang meletakkan pakaian bekas pakai di tempat tertutup seperti lemari.

6.4. Gambaran Tindakan Masyarakat Kampung Pasar Baru Terhadap

Kejadian DBD.

Sebanyak 58,33 % responden sudah melakukan tindakan pencegahan meliputi pengurasan bak mandi lebih atau sama satu kali seminggu, pemakaian anti nyamuk atau kelambu, cara menggantung pakaian bekas pakai, penutupan dan pengurasan wadah penampungan air, mengubur barang bekas yang dapat menampung air serta pemberian bubuk abate. Dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa tindakan pencegahan DBD yang dilakukan masyarakat Kampung Pasar Baru masih rendah, sedangkan faktor tindakan pencegahan ini merupakan faktor yang paling penting dari ketiga faktor (pengetahuan, sikap dan tindakan) untuk menurunkan anngka kejadian DBD.

Sebagian besar responden sudah dapat memberikan pertolongan terhadap penderita DBD, yaitu sebanyak 89,41 % sesuai tatalaksana umum pasien demam. Angka ini juga menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat Kampung Pasar Baru berobat ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas.

BAB 7

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

1. Pengetahuan masyarakat Kampung Pasar Baru tentang DBD cukup tinggi.

2. Masyarakat Kampung Pasar Baru memiliki sikap yang sangat baik dalam pencegahan DBD dan pertolongan terhadap penderita DBD.

3. Tindakan masyarakat Kampung Pasar Baru masih kurang dalam usaha pencegahan kejadian DBD.

7.2. Saran

1. Perlu dilakukan suatu upaya promosi kesehatan tentang DBD kepada masyarakat.

2. Promosi kesehatan dititikberatkan pada usaha mewujudkan pengetahuan dan sikap yang baik tentang DBD dengan tindakan nyata pencegahan dan penanggulan DBD.

BAB 8

INTERVENSI

Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian mengenai Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kampung Pasar Baru Kenagarian Pasar Baru Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan telah dilakukan intervensi penelitian di kampung Pasar Baru pada hari Sabtu tanggal 30 Agustus 2008. Sehari sebelum intervensi dilaksanakan, dilakukan koordinasi dengan Camat Kecamatan Bayang, Wali Nagari Pasar Baru dan Wali Kampung Pasar Baru. Masyarakat diberi informasi dan diajak berperanserta secara langsung melalui pengumuman di masjid.

Kegiatan intervensi diikuti oleh seluruh Dokter Muda COME dan staf puskesmas dibawah koordinasi langsung pimpinan puskesmas dr. Ike Rahayu. Kegiatan yang dilakukan meliputi pemberian penyuluhan kepada warga kampung Pasar Baru dengan mengunjungi dari rumah ke rumah sambil membagikan leaflet. Leaflet berisi informasi tentang Demam Berdarah Dengue yang meliputi etiologi, vektor dan cara penularan serta gejala dan tanda seseorang telah terjangkit DBD.Selain itu leaflet juga memuat cara pencegahan penularan DBD dan tatalaksana awal penderita yang dicurigai menderita DBD. Leaflet dibuat sesederhana mungkin agar mudah dipahami oleh masyarakat dan disertai dengan gambar yang menarik dan informatif.

Selain kegiatan penyuluhan, juga dilakukan penaburan langsung dan pembagian bubuk Abate di rumah penduduk yang dikunjungi di kampung Pasar Baru. Bubuk Abate ditabur ditempat yang dicurigai sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegepty seperti bak mandi, kolam, genangan air dan wadah penampungan air lainnya.

Intervensi yang kami lakukan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat kampung Pasar Baru. Diharapkan dengan adanya intervensi ini masyarakat mendapat pengetahuan, sikap dan tindakan tentang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), yang meliputi penyebab penyakit, vektor dan cara penularannya, gejala dan tanda awal DBD serta masyarakat cara pencegahan dan penatalaksanaan awal pada pasien yang dicurigai menderita DBD.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gubler DJ. Dengue and dengue hemorrhagic fever. Clinical microbiology reviews 1998; 11 (3): 480-496.

2. Rahman M, Rahman K, Siddque AK, Shoma S, Kamal AHM, et al. First outbreak of dengue hemorrhagic fever. CDC Emerging infectious journal 2002; 8(7): 398-403.

3. Acang N. 2006. Pemberian cairan pada demam berdarah dengue: resuscitation and maintenance.

4. Suroso T, Umar AI. Epidemiologi dan penanggulangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia saat ini. Dalam: Hadinegoro SRH, Satari HI, penyunting. Naskah lengkap pelatihan bagi pelatih dokter spesialis anak dan dokter spesialis penyakit dalam dalam tatalaksana kasus DBD. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 1999:14-17.

5. Cipto F. 2007. Dengue hemorrhagic fever. Diunduh dari www.fkuii.org.

6. M.Nasrum, Andi Arfan S. Teknik identifikasi serotipe virus dengue (DEN 1-4) dengan uji reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Cermin Dunia Kedokteran 2002;134.

7. Dinas Kesehatan Sumatera Barat. DBD mengganas Pokjanal “jemput” bola. Februari 2008. Diunduh dari http://www.dinkes-sumbar.org.

8. Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan, 2007. Laporan demam berdarah di Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2006-2007.

9. Laporan bulanan puskesmas pasar baru, januari sampai juni 2008.

10. Muhlisin A, Pratiwi A. Penanggulangan demam berdarah dengue di kelurahan Singopuran Kartasura Sutokarjo. WARTA 2006;9(2):123-129.

11. Djauhari A. Hubungan kondisi lingkungan dan partisipasi masyarakat dengan pengendalian demam berdarah (studi kasus: di kota Pontianak, Kalimantan Barat). Tesis 2002. Diunduh dari http://www.digilib.ui.edu.

12. Notoatmodjo S. Prinsip- prinsip dasar ilmu kesehatan masyarakat. Jakarta: Rineka cipta, 2003;46-170.

13. Fathi, Keman S, Wahyuni CU. Peran faktor lingkungan dan perilaku terhadap penularan demam berdarah dengue di kota Mataram. Jurnal Kesehatan Lingkungan 2005; 2 (1) : 1-10.

14. Garna H, Hadinegoro SR, Sumarmo. Infeksi virus dengue. Dalam Buku ajar ilmu kesehatan anak: infeksi dan penyakit tropis. Edisi 1. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2002;176-208.

15. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Infeksi Dengue. Dalam Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak jilid 2 . Jakarta: Percetakan Infomedika Jakarta, hlm 607-620.

16. Rampengan TH, Laurentz R. Demam berdarah dengue. Dalam: Penyakit infeksi tropik pada anak. Jakarta: EGC, 1992;136.

17. Halstead SB. Dengue fever and dengue hemorrhagic fever. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson textbook of pediatrics; 17th ed. Philadelphia: Saunders, 2004; 1590-1599.

18. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang. Direktorat Jenderal PPM dan PLP, 2007. Modul Pemberantasan Demam Berdarah Dengue, Hal 13-14.

19. Soegijanto S. Patogenesa dan perubahan Patofisologi Infeksi Virus Dengue. FK UNAIR Surabaya, 2007.

20. Hadinegoro SRH, Soegijanto S, dkk. Tatalaksana demam dengue/demam berdarah dengue pada anak. Dalam: Hadinegoro SRH, Satari HI, penyunting. Naskah lengkap pelatihan bagi pelatih dokter spesialis anak dan dokter spesialis penyakit dalam dalam tatalaksana kasus DBD. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 1999:82-100.

21. Anonim. Demam berdarah dengue: masalah dan cara penanggulangannya. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2008. Diunduh dari www.idai.org.

22. Kasnodihardjo, Sumenengen. Aspek perilaku dalam kaitannya dengan penyakit demam berdarah di kodya Sukabumi.

Hello world!

December 16, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.